Kota Sarang Lebah dan Raja yang Mengukur Langit
I. Kota yang Selalu Sibuk
Di tengah padang bunga yang luas dan berwarna keemasan, berdirilah sebuah kota unik bernama Apisra. Kota ini tidak terbuat dari batu atau kayu, melainkan dari lilin, madu, dan kerja keras. Apisra adalah Kota Sarang Lebah, tempat ribuan lebah hidup dan bekerja dalam keteraturan yang nyaris sempurna.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar bangun, dengung lembut memenuhi udara. Lebah-lebah pekerja keluar dari sarang, menyebar ke padang bunga, mengumpulkan nektar setetes demi setetes. Tidak ada yang malas. Tidak ada yang bertanya berlebihan. Hidup di Apisra berjalan berdasarkan satu keyakinan sederhana: bekerja hari ini agar bisa hidup esok hari.
Pemimpin kota ini adalah Ratu Melira, lebah ratu yang bijak dan pendiam. Ia jarang berbicara, tetapi setiap keputusannya mempertimbangkan keseimbangan: berapa madu yang disimpan, berapa yang dibagikan, dan berapa yang ditukar dengan makhluk lain di padang.
Selama bertahun-tahun, Apisra makmur. Tidak berlebihan, tetapi cukup. Tidak mewah, tetapi aman.
Namun, seperti semua kisah tentang kemakmuran, bahaya terbesar justru datang ketika semua terlihat baik-baik saja.
II. Raja yang Datang dari Awan
Suatu hari, langit di atas Apisra berubah. Bukan mendung, bukan hujan, melainkan bayangan besar yang menutup matahari. Dari awan turunlah makhluk asing: Tawon Besar bersayap hitam bernama Varcos.
Varcos bukan lebah. Ia tidak mengumpulkan nektar. Ia tidak mengenal bunga. Namun ia pandai berbicara, dan suaranya terdengar seperti kebenaran yang disusun rapi.
“Aku datang membawa sistem,” kata Varcos di hadapan Ratu Melira dan Dewan Sarang.
“Dengan sistem yang lebih efisien, Apisra bisa menghasilkan madu tiga kali lipat.”
Lebah-lebah saling berpandangan. Tiga kali lipat madu terdengar seperti mimpi.
Varcos melanjutkan, “Aku akan membangun Gudang Langit—tempat penyimpanan madu terbesar yang pernah ada. Dengan gudang itu, kita tidak perlu takut musim buruk. Kita akan menguasai masa depan.”
Beberapa lebah pekerja bersorak. Beberapa lainnya diam.
Ratu Melira bertanya pelan, “Untuk apa madu sebanyak itu?”
Varcos tersenyum. “Untuk stabilitas.”
Kata stabilitas terdengar pintar, meski tak semua memahaminya.
III. Gudang yang Tumbuh, Perut yang Mengecil
Gudang Langit dibangun dengan cepat. Lilin ditarik dari berbagai sudut kota. Lebah-lebah pekerja diperintahkan menambah jam kerja. Bunga yang dulu dibiarkan untuk pulih kini dipanen terus-menerus.
Awalnya, semua tampak berhasil.
Gudang penuh. Angka-angka di papan Varcos naik. Ia menggambar grafik di udara, menunjuk ke langit, dan berkata, “Lihat, kita maju.”
Namun, di sudut-sudut Apisra, perubahan kecil mulai terasa.
Lebah pekerja bernama Nira mulai pulang lebih lambat, membawa nektar yang semakin sedikit. Bunga-bunga di padang mulai layu sebelum waktunya. Madu yang biasanya dibagikan untuk konsumsi harian kini dikurangi—“sementara,” kata Varcos.
“Untuk cadangan,” katanya.
Hari demi hari, lebah-lebah bekerja lebih keras, tetapi madu yang mereka rasakan semakin sedikit.
Gudang Langit penuh.
Perut lebah kosong.
IV. Pertanyaan yang Dianggap Gangguan
Nira memberanikan diri berbicara di rapat sarang.
“Gudang kita penuh,” katanya. “Tapi mengapa jatah madu kami dikurangi?”
Varcos menoleh tajam. “Kau tidak memahami ekonomi langit. Jika kita membagi terlalu cepat, kita akan kekurangan nanti.”
“Namun kami kekurangan sekarang,” jawab Nira.
Suasana menjadi dingin.
Ratu Melira mengamati tanpa bicara. Ia mulai merasa sistem ini tidak seimbang, tetapi Varcos telah mendapatkan dukungan kuat dari sebagian Dewan—terutama lebah-lebah penjaga gudang yang kini memiliki kuasa.
Pertanyaan-pertanyaan mulai disebut sebagai gangguan. Lebah yang terlalu banyak bertanya dipindahkan ke pekerjaan berat. Beberapa bahkan tidak lagi dipanggil ke rapat.
Apisra masih berdengung, tetapi nadanya berubah.
V. Musim yang Tidak Bisa Dihitung
Suatu ketika, musim dingin datang lebih cepat. Bunga belum sempat pulih. Padang menguning.
Lebah-lebah pulang dengan tangan kosong. Mereka berharap Gudang Langit akan dibuka.
Namun Varcos mengumumkan kebijakan baru.
“Madu di gudang tidak boleh dibuka,” katanya. “Ini untuk menjaga harga.”
Kata harga tidak berarti apa-apa bagi lebah yang lapar.
Anak-anak lebah mulai lemah. Beberapa jatuh sakit. Nira melihat temannya roboh di lorong sarang, sayapnya tak lagi kuat.
“Gudang penuh,” bisiknya. “Tapi kami dibiarkan lapar.”
Ratu Melira akhirnya bangkit.
VI. Raja yang Mengukur Langit, Lupa Mengukur Tanah
Melira memanggil Varcos ke ruang inti sarang.
“Kau bilang gudang ini untuk melindungi kami,” katanya. “Sekarang buktikan.”
Varcos mendengus. “Jika aku membuka gudang, sistem akan runtuh. Kau harus percaya padaku.”
Melira menatapnya lama.
“Kau mengukur langit,” katanya, “tapi kau lupa mengukur tanah tempat kami berdiri.”
Ia memerintahkan gudang dibuka.
Varcos menolak.
Malam itu, dengung Apisra berhenti. Lebah-lebah tidak terbang. Tidak bekerja. Tidak mengumpulkan apa pun.
Kota sarang sunyi.
Tanpa kerja lebah, sistem Varcos lumpuh. Gudang penuh, tetapi tidak ada yang mengelolanya.
Tekanan datang dari segala arah.
VII. Runtuhnya Gudang Langit
Beberapa hari kemudian, lilin gudang mulai retak. Madu yang terlalu lama disimpan mengeras, membusuk, dan mengalir sia-sia ke tanah.
Varcos panik. Sistemnya tidak dirancang untuk kenyataan.
Lebah-lebah membuka gudang dengan paksa. Mereka mengambil madu secukupnya—bukan rakus, bukan berlebihan.
Ratu Melira mencabut hak Varcos. Tawon hitam itu terbang pergi, meninggalkan gudang yang rusak dan kota yang lelah.
VIII. Pelajaran dari Madu yang Tumpah
Butuh waktu lama bagi Apisra untuk pulih. Banyak bunga mati. Banyak lebah tidak kembali.
Namun kota itu belajar.
Gudang tetap ada, tetapi ukurannya dibatasi. Penyimpanan tidak lagi mengalahkan kebutuhan hari ini. Setiap keputusan harus menjawab satu pertanyaan:
Apakah ini memberi makan yang lapar, atau hanya menenangkan angka?
Nira menjadi pengawas distribusi—bukan karena ia paling pintar, tetapi karena ia paling ingat rasanya lapar.
Dan Ratu Melira menuliskan satu hukum baru di dinding sarang:
“Kemakmuran yang tidak bisa dimakan bukanlah kemakmuran.”
Penutup
Apisra tidak pernah menjadi kota terkaya di padang bunga. Namun ia menjadi kota yang bertahan.
Lebah-lebah tetap bekerja. Gudang tetap ada. Tetapi tak satu pun dibiarkan lapar demi janji masa depan yang tak pasti.
Dan kisah tentang Raja yang Mengukur Langit menjadi fabel yang diceritakan dari bunga ke bunga—peringatan bahwa:
Menimbun tanpa empati hanya akan menghasilkan kehancuran yang rapi.



















